DI
BALIK MAJUNYA ZAMAN
(karya:ikhsantiko
aswianto)
Namaku
Adit, aku tinggal di Cacaban, kota Magelang.
Kebetulan aku baru 5 bulan di Magelang.
Aku pindah dari Bandung ke Magelang karena mengikuti orangtuaku
beralih tugas.
Walaupun baru 5 bulan, aku sudah memiliki 2 sahabat, yaitu: Citra,
Restu. Mereka berdua sangat baik padaku. Akan
tetapi aku sedikit sulit berkomunikasi
dengan mereka, karena mereka menggunakan bahasa jawa yang tidak
begitu aku
mengerti.
tugas-tugasanaksekolah.blogspot.com
Di
Magelang mata pelajaran yang menurutku susah adalah bahasa jawa,
karena di bandung tidak ada pelajaran bahasa jawa, aku hanya bisa
bahasa sunda. Walaupun demikian, mereka
telah mengajariku banyak hal, mulai dari bahasa Jawa yang tadinya aku
tidak tau, walaupun sekarang aku Cuma tahu sedikit-sedikit
Kami
bertiga sering bertukar ilmu, aku mengajari Restu dan Citra bahasa
sunda, mereka mengajariku bahasa jawa. Di SMPN 7 Magelang, sekolah ku
Magelang, aku juga sudah mulai punya banyak teman, dari kelasku
(8E),maupun dari kelas 8 lainya dan dari kelas 7 dan ada juga kelas
9, tentunya Restu dan Citra yang memperkenalkan kepada ku. Di sekolah
ini, pelajar yang aku suka adalah seni dan budaya, guruku bernapa Bu
Ning. Bu Ning adalah salah satu guru favorit ku di SMPN 7 Magelang,
dia sangat baik kepada murid-muridnya. Selain pandai mengajar, Bu
Ning juga pandai menari, di usianya yang sudah hampir mencapai 50
tahun, ia memiliki satu sanggar seni budaya di daerah Menowo. Banyak
sekolah-sekolah swasta yang meminta Bu Ning untuk datang dan mengajar
ekstrakulikuler Tari di sekolah mereka.
Suatu
hari Bu Ning memberi tugas liburan sekolah kepada kami. Kami di suruh
membuat kelompok yang masing masing kelompok terdiri dari 3 orang
siswa. Tugas yang di berikan Bu Ning adalah mencari kebudayaan asli
Magelang yang sudah mulai luntur atau yang masih tetap di lestarikan.
Tetapi tugas ini tidak boleh di cari melalui internet, hmm….
seperti di suruh membuat laporan kegiatan.
Pukul
12.00 WIB :“teeeerrrttttt…….. teeeerrrttttt……
teeeerrrrttttt……..” mendengar suara yang paling di
tunggu-tunggu siswa sekolah, yaitu Bell yang memulai liburan kita
mulai saat itu. kami langsung bergegas pulang, tidak lupa kami
menyempatkan diri untuk solat dzuhur berjama’ah di masjid
At-Taqorub SMPN 7 Magelang. Setelah selesai solat kami bertiga
berjalan pulang, kebetulan kami bertiga satu arah pulangnya.
Di
perjalanan kami membahas masalah tugas yang di berikan Bu Ning.
“ Pie nek
dewe garap tugase sing dikeki Bu Ning, Dit. Sisan nggo ngisi libur ?
“ tanya restu.
“ Hus…
kowe ki ngawur wae, Adit opo ngerti boso jowo ? nganggo boso
Indonesia wae !?” bentak Citra.
“Oh iyo…
. Dit, bagaimana kalo kita mengerjakan tugas dari Bu Ning, sambil
mengisi liburan ? “ ulang Restu.
“ Aku sih
setuju-setuju aja, Res. Tapi apakah Citra setuju ?", “Dan
kapan kita akan mengerjakan tugas itu ? “ tambahku.
“ Aku
setuju, Dit.”
“Bagaimana
kalo kita kerjakan besok Minggu ? dirumahku jam 09.00 pagi ? “
Tanya Restu.
“ Oke, aku
akan kerumahmu besok.” Jawabku dan Citra.
Setelah
bercakap-cakap akhirnya kami putuskan untuk mengerjakannya Hari
Minggu (hari pertama liburan Semester 1 ), sambil mengisi hari libur
kita. Kami merencanakan akan mengerjakan di rumah Restu di
Mertoyudan.
Sampai
dirumah pada pukul 14.00, aku langsung duduk di kursi ternyamanku,
yakni kursi di depan komputer. Ku hidupkan komputer dan ku tancapkan
modem ke CPU. Langsung aku Facebookan. Maklum saja karena besok sudah
mulai libur. Pada pukul 15.00 , ku matikan sejenak komputerku dan aku
langsung ambil air wudhu, kemudian bergegas solat. Setelah solat aku
pun mengambil handuk dan langsung mandi. Setelah selesai solat dan
mandi, kira-kira pukul 16.00 aku ambil makan siangku, yang seharusnya
sudah tdi aku makan. Dan aku berkata pada ibuku.
“ tolong
besuk bangunkan aku pukul 04.30 ya bu, karena setelah solat aku mau
mandi dan menyiapkan barang-barang yang akan ku bawa untuk kerja
kelompok di rumah Restu. “ pintaku.
“ Baiklah,
tapi kalo aku baangunkan kamu gak boleh marah ya ? “ jawab ibu
sambil sedikit meledekku.
“ iyalah
bu, klo aku marah siram saja aku dengan air bak mandi, hahaha “
Keesokan
harinya aku bangun sesuai rencana. Dan langsung menelpon Citra, hanya
mengingatkan klo kerja kelompok. Aku pun berangkat dari rumah pukul
08.30, di hantarkan ibuku menggunakan motor bersejarahku.
Sesampainya
di rumah Restu di Desa Prajenan, Mertoyudan, Magelang. Kami berencana
untuk mencari tahu kebudayaan apa saja yang ada di daerah dekat desa
rumah Restu tinggal. Pada saat kita asyik berfikir, kami mendengar
alunan musik-musik tradisional, dan “ Aki sutopo… ndue ilmu kang
utomo…. Nganti tekan mbesok kapan….“
Mendengar
suara itu rasa penasaranku pun muncul.
“ restu,
apa kamu dengar, seprti ada musik-musik yang di mainkan “ tanyaku.
“ ooh…
itu, itu keseninan tradisional Magelang, namanya topeng ireng. “
jelasnya.
“ Topeng
ireng ?” ,
“ ya “ ,
“ rasanya
ku pernah dengar, kalo tidak salah itu seperti tarian-tarian adat, ya
? “ . “kurang lebih seperti itu”
ikhsantikossdd@gmail.com
Kami
pun akhirnya teringat kalo topeng ireng ini juga bisa menjadi bahan
tugas kita. Akhirnya kami menelusuri jalan-jalan desa Restu yang
terletak di Prajenan, Mertoyudan, Magelang ini, kami mencari dari
mana asal bunyi itu. Di perjalanan mencari Restu menjelaskan kepada
Citra dan Aku tentang topeng ireng. Maklum aku orang Bandung, dan
Citra orang Magelang yang tinggal di kota, baru-baru ini. Sebenarnya
Citra berasal dari Makasar.
“Banyak
masyarakat yang hanya mengetahui kesenian Topeng Ireng hanya sebagai
sebuah tontonan seni tradisi semata. Namun di balik itu, kesenian
rakyat asal Magelang ini terkandung sebuah filosofi di dalamnya.”
Jelas Restu.
“ Ooooo……”,
“nama
Topeng Ireng berasal dari kata Toto Lempeng
Irama Kenceng yang menata hidup secara baik
dengan irama yang dinamis.“
“ Oo..
gitu to, Res ! “ tanggapku.
“ Iya,
aku kan ikut sanggar seni Permata Rimba, sanggar ini termaksud
sanggar yang hebat lhoo…. “ sahut Restu.
Akirnya
kami menemukan sumber bunyi musik-musik itu. Kami tiba di satu
halaman sanggar bernama “ Sanggar Budaya Jawa “. Di sana kami
bertemu dengan Pak Suwarno
sesepuh kelompok Topeng Ireng itu, tentu saja bukan yang Ter-ireng,
hahaha… di sana kami menanyakan banyak hal, mulai dari sejarahnya.
“ Pak,
sebenarnya bagaimana asal topeng ireng ? “ tanyaku.
“Pada
awalnya ada yang disebut topeng kawedar yang diciptakan oleh lurah
Desa Tukson, seni topeng kawedar merupakan seni rakyat yang
menggabungkan pencak Jawa dengan lagu-lagu salawat sebagai sarana
siar Islam. Kini seni topeng ireng belum mati, masih terus berkembang
hingga keluar daerah termasuk di wilayah Kulonprogo, Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Biasanya tanggapan marak mulai April, Agustus,
dan hari besar Jawa seperti bulan Rejeb, Syawal, maupun Maulud,
hingga pada perayaan hari besar keagamaanseperti Idul Fitri, upacara
adat merti dusun, sampai sekadar syukuran khitan.”
"Meskipun
seni ini dimaksudkan untuk siar Islam, ternyata kita juga mendapat
tanggapan dari warga Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Jadi seni
ini diminati semua kalangan” tambahnya.
Aku
herang mengapa di zaman yang modern ini masih banyak juga anak-anak,
pemuda-pemuda yang belajar tarian ini. Malahan tarian ini seperti hal
yang hebat bagi mereka. Kata Restu
“kita
sebagai anak bangsa, tidak boleh terus menghilangkan budaya bangsa
dit, sif, kita harus terus melestarikannya, agar tarian ini dan
budaya-budaya lainnya tidak terus luntur, apalagi punah karena
terdorong oleh budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia”
“
kalo kamu mau kita bisa belajar tarian ini bersama-sama,
dan kamu juga gak usah malu deh Dit,Cit. Karena ini termasuk
Kebudayaan asli kita. “. Ungkap Restu.
“
wah jelas saja aku mau Res “
Tidak
menyianyiakan waktu, kami pun meminta pak Suwarno untuk mengajari
kami cara menari topeng ireng. Setelah belajar sedikit tentang tarian
topeng ireng kami pulang kerumah Restu dengan membawa pulang banyak
ilmu. Akhirnya kami tahu, apa yang harus kami laporkan kepada Bu
Ning.
Setelah
libur panjang semester 1 usai. Kami sudah mulai masuk sekolah dan
melaksanakan KBM seperti biasa. Dan pada pelajara seni budaya, kami
melaporkan apa yang kami ketahui tentang topeng ireng. Dan kami dapat
menyimpulkan. Bahwa topeng ireng bukan hanya kesenian jawa biasa,
dalam setiap tarianya mengandung sejarah. Dan tanpa kami ketahui
juga, kalau semakin hari semakin banya pemuda-pemuda yang ingin
melestarikan tarian topeng ireng ini. Kami bangga menjadi anak
Indonesia yang memiliki beragam seni budaya.
DILARANG KERAS COPY PASTE !! ARTIKEL INI DI LINDUNGI HAK CIPTA
